Attitude / Sikap Adalah Segalanya

by admin
0 comment

Dua belas tahun lalu, konon seorang wanita dapat beasiswa, pergi kuliahnya jauh ke kota Paris, di Prancis sono. Dia ini wanita cerdas luar biasa. Kerjaannya merhatiin apa aja. Dia perhatiin kalo sistem transportasi di sana menggunakan sistem otomatis, artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Gak pake calo, gak pake loket, gak pake bantuan orang sama sekali. Cukup ngerti cara pake mesinnya..

Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara “self-service” alias ngandalin diri sendiri dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan pemeriksa insidentil oleh petugas pun hampir gak ada. Gak perlu sidak, gak perlu paranoid ato curigaan. Orang saling percaya, bahkan petugas pun percaya ama masyarakatnya..

Karena keseringan pake fasilitas ini akhirnya lama-kelamaan dia temuin kelemahan sistem ini (namanya juga cerdas kan..??), dan dengan kelihaiannya dia bisa naik transportasi umum tanpa harus beli tiket lagi. Semua udah dia perhitungkan kalo kemungkinan tertangkap petugas karena gak beli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan gratis alias gak bayar tiket dengan ngakalin mesinnya. Bukannya malu dia malah bangga atas kepintarannya tersebut.

Dia sih pendapatnya sederhana aja,  karena dia nganggap dirinya murid miskin, kalo bisa ngirit ya ngirit. Namun, dia gak sadar kalo sebenarnya dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya kelak.
Waktu terus berlalu…..

Empat tahun sudah terlewati, dan dia tamat dari fakultas dari universitas ternama di Prancis dengan nilai yang sangat bagus. Prestasi buat mahasiswa asing yang hidup dari beasiswa. Hal ini bikin dirinya penuh percaya diri akan masa depannya.

Lalu dia mulai masukin lamaran kerja di beberapa perusahan ternama di Paris, dengan pengharapan besar buat diterima. Awalnya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat. Tapi berapa hari kemudian, semuanya menolaknya dengan berbagai alasan.

Hal ini terus terjadi berulang kali sampai bikin dia kesal. Merasa gak terima dan sangat marah dengan perlakuan mereka padaya. Bahkan dia mulai menganggap perusahan-perusahan ini rasis, karena tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, karena penasaran dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja tuk ketemu dengan pimpinannya. Dia pengen tahu alasan apa perusahan-perusahaan tersebut menolaknya, sementara kualifikasi yang dipersyaratkan dia penuhi. Ternyata, penjelasan yg didapat di luar perkiraannya…
Berikut adalah dialog mereka…

Manager: “Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkan anda. Pada saat anda mengajukan aplikasi pekerjaan di perusahan, kami sangat terkesan dengan nilai akademis dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya adalah golongan pekerja yang kami cari-cari.”

Wanita: “Kalau begitu, kenapa perusahan-perusahaan tersebut gak menerima saya bekerja?”

Manager: “Jadi begini, setelah kami memeriksa di database, kami menemukan data bahwa nona pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.”

Wanita: (Kaget) “Ya saya mengakuinya, tapi apakah karena perkara kecil tersebut perusahan menolak saya?”

Manager: “Perkara kecil?!? Kami gak nganggap ini perkara kecil, nona. Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini. Saat itu petugas percaya dengan penjelasan bahwa anda masih belum mengerti sistem transportasi umum di sini. Kesalahan tersebut diampuni. Namun anda tertangkap dua kali lagi setelah itu. (Ini emang gak tau atau udah doyan?)”

Wanita: “Ooh.. waktu itu karena tidak ada uang kecil saja.” (masih berusaha mengelak)

Manager: “No.. no.. Kami tidak bisa terima penjelasan anda. Jangan anggap kami bodoh! Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.” (udah disumpulkan)

Wanita: “Well, tapi itu bukan kesalahan mematikan bukan? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya berubah kan masih bisa?”

Manager:¬†Saya tidak anggap demikian, nona!”

0 comment

You may also like

Leave a Comment